Bagikan artikel ini:

Saat menikmati buah-buahan segar, Anda mungkin mendapatkan lebih dari hanya rasa manis. Jika buah itu ditanam secara konvensional, Anda mungkin menelan residu pestisida yang berbahaya bagi kesehatan.

Beberapa jenis bahan kimia itu telah dilarang di Eropa karena memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Kini, para pakar dari penjuru dunia bekerja menciptakan solusi untuk mendeteksi pestisida yang berada di buah-buahan dan sayuran dengan beragam cara yang unik.

Produksi pertanian di Amerika Serikat (AS) menggunakan hampir 700 juta pound (318 juta kg) pestisida setiap tahun, menurut data Consumer Reports. “Tidak hanya itu, hampir tiga perempat dari 6.953 sampel produk yang diuji Departemen Pertanian AS pada 2014 mengandung residu pestisida,” papar laporan Environmental Working Group, lembaga non profit yang bekerja untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.

Kondisi di negara-negara Asia bisa lebih buruk lagi. Penggunaan pestisida banyak yang tak terkontrol dan membahayakan lingkungan serta manusia. Untuk menghadapi kekhawatiran itu, para peneliti di Spanyol, Belgia, China, dan Prancis telah menemukan cara baru untuk mendeteksi pestisida pada berbagai produk.

Masalahnya, cara terbaik mengidentifikasi residu pestisida pada buah dan sayuran adalah melalui spektometri chromatography gas atau cair yang prosesnya sangat mahal. Membutuhkan biaya puluhan ribu dolar dan peralatan berukuran besar untuk melakukan pengujian pestisida.

Meski demikian, kini muncul metode yang lebih murah dan menggunakan peralatan lebih kecil yang dapat dibawa ke tempat pengujian. Bahkan peralatan itu bisa dikantongi untuk dibawa kemana pun atau disimpan di toko atau rumah.

Para peneliti di Spanyol dari Universitas Jaen muncul dengan solusi menciptakan alat yang lebih murah, senilai ku rang dari USD2.000 untuk mendeteksi keberadaan clothianidin, jenis insektisida neonicotinoid pada produk.

Sampel produk dimasukkan dalam tabung yang di dalamnya dipasang lampu merkuri bertekanan rendah 15 watt. Reaksi fotokimia memungkinkan deteksi pestisida pada level sangat kecil dengan bantuan program komputer.

“Tujuan kelompok riset kami adalah terus mem perbaiki sistem kami untuk analisis pestisida sehingga tidak hanya dapat digunakan di laboratorium atau untuk kontrol kua litas, tapi juga oleh masyarakat umum, melalui peralatan ringkas yang melakukan analisis keberadaan pestisida pada produk,” ungkap Jimenez Lopez, salah satu peneliti proyek itu pada situs Modern Farmer.

Adapun tim riset internasional yang dipimpin peneliti Belgia dari Universitas Leuven telah menciptakan “hidung elektronik” untuk mencium pestisida. Prosesnya menggunakan metal-organic frameworks (MOF), yakni spons mikroskopis buatan manusia yang dapat menyerap phosphonates yang ada pada pestisida.

Alat ini mirip analisis napas yang digunakan polisi untuk mendeteksi pengemudi yang mabuk. Bedanya, alat ini untuk mendeteksi pestisida pada buah dan sayuran. Alat ini mampu mendeteksi level pestisida, meskipun sangat kecil. “Konsentrasi pestisida yang dapat kami deteksi sangat rendah, setara dengan setetes air dalam kolam renang stan dar Olimpiade,” ujar Ivo Stassen, peneliti yang terlibat dengan proyek tersebut.

Teknologi ini dapat mendeteksi gas saraf pada level sangat rendah. Stassen dan mitra peneliti Rob Ameloot yakin, teknologi ini memiliki banyak fungsi lainnya, termasuk mendeteksi kanker paru-paru dengan memindai napas seseorang. Seorang mahasiswa Prancis, Simon Bernard, dari National Maritime College of France, Norman dia, muncul de ngan detektor pestisida yang disebut “Scan Eat”.

“Peralatan kecil ini memiliki ukuran sebesar flash drive yang dilengkapi aplikasi smartphone sehingga pengguna dapat memindai buah atau sayuran saat berbelanja untuk mengetahui level pestisida yang ada di permukaan produk,” ungkap laporan portal Prancis, Sciences et Avenir.

Peralatan ini berdasarkan spektrometer inframerah mini yang diciptakan pa da 2014 oleh Consumer Physics, startup asal Israel yang memiliki produk Scio. Scio dapat mengumpulkan informasi susunan molekul pada suatu objek, baik itu tanaman maupun makanan. Pengguna Scio dapat memindai produk dengan peralatan yang memancarkan sinar inframerah dengan panjang gelombang tertentu dan memantulkan tanda molekuler makanan.

Bernard bekerja untuk mengubah teknologi itu agar dapat mengenali pestisida dan menentukan seberapa banyak bahan kimia yang ada pada buah atau sayuran. Idenya itu meraih penghargaan senilai 150.000 euro dari Kementerian Lingkungan Prancis. Para peneliti dari Universitas Teknologi Hefei di China dan National University of Singapore men ciptakan detektor pestisida menggunakan kertas dan smartphone.

Para peneliti menciptakan partikel nano yang memancarkan sinyal berpendar di kertas dan peralatan yang memindai kertas itu dengan laser kecil. Aplikasi smartphone kemudian membaca perbedaan sinar pendar dan mengubah informasi dalam tampilan yang mudah dipahami pengguna mengenai keberadaan pestisida.

“Kami sekarang membuat sistem yang berguna untuk aplikasi dunia nyata,” papar Profesor Yong Zhang, peneliti dari National University of Singapore. “Kami berencana menggunakan teknologi ini untuk mendeteksi berbagai molekul pada saat bersamaan, sesuatu yang disebut deteksi multiplek.

Dengan cara ini, kita dapat, misalnya menguji kualitas makanan yang kita konsumsi setiap hari,” kata Profesor Yong. Dengan berbagai peralatan itu, para konsumen dapat merasa lebih nyaman saat mengetahui kadar pestisida yang ada pada buah dan sayuran yang mereka konsumsi.(Syarifudin)

Sumber: sindonews.com