Bagikan artikel ini:

Mendikbud Anies Baswedan, memutuskan untuk menghentikan kurikulum 2013. Langkah ini menimbulkan polemik dan pandangan pro kontra dari berbagai lapisan masyarakat. Salah satu pihak yang mengkritik penghentian kurikulum 2013 adalah Menteri Pendidikan dan kebudayaan era SBY, Muhammad Nuh.

Meski begitu, penghentian kurikulum 2013 ternyata disambut dengan kelegaan oleh kalangan guru. Salah satunya adalah Sri Pujiastuti, seorang guru SMP di Malang. Saat diwawancarai oleh merdeka.com Minggu (07/12) kemarin, Sri menjabarkan kelebihan dan kekurangan kurikulum 2013 bagi guru.

Menurutnya kurikulum 2013 tak sepenuhnya buruk. Dibandingkan dengan kurikulum yang lama, kurikulum 2013 melatih anak untuk lebih mandiri, kreatif, dan inovatif. Siswa tak hanya mendapatkan informasi dan materi dari guru, melainkan juga dilatih untuk mencari informasi di luar kelas secara aktif.

Melalui konsep 5 M, siswa dididik untuk dapat mencari sendiri informasi, menemukan, menyampaikan pendapat di depan kelas, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan secara aktif dan mandiri. Dengan begitu, kurikulum ini juga kembali mengajak anak-anak untuk membudayakan membaca, salah satu kebiasaan yang mulai menurun pada generasi saat ini.

Dalam kurikulum 2013, sikap siswa di dalam kelas juga termasuk salah satu aspek yang dinilai. Karena itu penerapan kurikulum 2013 juga memiliki tujuan yang baik yaitu mendorong anak untuk memiliki sikap yang lebih baik di sekolah, pada teman sejawat, dan terhadap lingkungannya.

Meski begitu, ada beberapa aspek dalam kurikulum 2013 yang menurut Sri masih perlu dikaji ulang dan tak dapat diterapkan secara maksimal di Indonesia saat ini.

Salah satunya adalah sistem penilaian yang dinilai guru terlalu rumit. Dalam kurikulum 2013, guru harus melakukan tiga set penilaian terhadap siswa, antara lain penilaian sikap, penilaian kognitif, dan penilaian keterampilan.

Masing-masing set penilaian masih dijabarkan lebih banyak, misalkan set penilaian sikap yang terdiri atas penilaian observasi (kedisiplinan, kejujuran, peduli lingkungan, dsb), penilaian diri, penilaian teman sejawat, dan penilaian jurnal. Sistem penilaian yang banyak dan rumit tersebut harus diterapkan guru pada masing-masing siswa, per mata pelajaran, dan per kompetensi dasar.

“Untuk satu mata pelajaran, rata-rata kompetensi dasar adalah tujuh sampai delapan. Berarti guru harus membuat delapan kali tiga set laporan narasi untuk masing-masing siswa. Jika satu kelas terdiri atas 40 anak dan satu guru mengampu tujuh kelas, maka bisa dibayangkan berapa laporan narasi yang harus dibuat oleh guru. Sementara laporan berbentuk narasi mendalam harus berbeda-beda pada masing-masing siswa,” ungkap Sri.

Sistem penilaian yang terlalu banyak inilah yang dinilai memberatkan guru. Bahkan Sri, yang pernah menjabat sebagai Kaur Kurikulum ini, berpendapat bahwa sistem penilaian ini yang paling rumit dibandingkan dengan sistem penilaian pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Menurutnya, semestinya sistem penilaian lebih disederhanakan.

“Seharusnya bisa lebih sederhana. Sistem penilaian yang terlalu rumit seperti ini lebih cocok diterapkan jika satu guru hanya mengampu 16 siswa dalam satu kelas,” tambahnya.

Selain sistem penilaian yang rumit, Sri juga menyoroti kurangnya sarana dan prasarana yang belum memadai dan merata untuk menjalankan kurikulum 2013. Tak semua siswa dan sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mengajarkan siswanya belajar secara aktif dan mandiri. Terutama jika kurikulum ini akan diterapkan di daerah-daerah yang terpencil.

“Selain kurangnya sarana, kurikulum 2013 juga belum dievaluasi. Bagaimana kurikulum yang belum dievaluasi sudah langsung diluncurkan dan diterapkan? Seharusnya kurikulum ini dievaluasi dan diujicobakan terlebih dulu. Setelah benar-benar matang dan siap dilaksanakan, baru diterapkan ke sekolah-sekolah,” ungkap guru yang sudah mulai mengajar sejak tahun 1979 ini.

Sri mengaku tak serta merta antipati terhadap kurikulum 2013. Menurutnya kurikulum 2013 berkemungkinan untuk diterapkan kembali setelah dikaji ulang, dievaluasi, dan diperbaiki. Dengan begitu, nilai-nilai positif dan kelebihan kurikulum 2013 bisa diterapkan secara maksimal oleh guru untuk kebaikan para siswa. [ian]

Sumber: merdeka.com